Yogyakarta

"Yogyakarta"

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Wake Me Up When September Ends

"Wake Me Up When September Ends"

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father's come to pass
seven years has gone so fast
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

summer has come and passed
the innocent can never last
wake me up when September ends

ring out the bells again
like we did when spring began
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father's come to pass
twenty years has gone so fast
wake me up when September ends
wake me up when September ends
wake me up when September ends

MU Dapatkan "Mutiara" Brasil



MANCHESTER, KOMPAS.com — Manchester United menambah "aroma samba" dalam timnya. Pasukan Sir Alex Ferguson tersebut diberitakan telah membeli gelandang muda berbakat asal "Negeri Samba", Lucas Evangelista, dari klub Desportivo Brasil.
Tak disebutkan secara detail berapa harga yang harus dikeluarkan Manchester United (MU) untuk mendapatkan pemain berusia 17 tahun ini. Yang pasti, menurut situs resmi Pitaco do gringo, kesepakatan ini akan diselesaikan sepenuhnya awal tahun depan. Meski demikian, sang pemain akan bergabung dan berlatih dengan tim muda MU sebelum kesepakatan itu selesai.

MU disebut-sebut dalam situs tersebut terkesan dengan penampilan sang pemain, baik itu dari segi marking, kemampuan menggiring bola, maupun kerja tim. Lucas sendiri tipikal gelandang yang mampu menjadi penghalau serangan lawan dan juga piawai dalam membantu serangan.

Sebelum Lucas, MU sudah mendapat duo pemain muda Brasil, yaitu Bruno Gomes and Aguilar. Ada juga Gladstony yang saat ini dipinjamkan ke FC Twente. Sementara itu, Anderson, Rafael, dan Fabio da Silva sudah lebih dulu mapan di tim "Setan Merah". Diharapkan, mereka bisa mengikuti jejak ketiga senior mereka tersebut.

http://bola.kompas.com/read/2012/03/26/05290923/MU.Dapatkan.Mutiara.Brasil

Spirit building.

Pantai parangtritis.
                     
"Kusnadi (1996) menjelaskan bahwa, dari keadaan yang terjadi di masyarakat pesisir pantai, awal dimulainya kemiskinan adalah dari tingkat pendidikan yang rendah dan karakter yang keras. Pendidikan yang rendah, menyebabkan pola berfikir dari masyarakat pesisir pantai yang rendah, sedangkan karakter yang keras cenderung menyebabkan masyarakat sekitar pesisir pantai sulit sekali untuk diajak sosialisasi dan diskusi. Hal ini diperparah dengan pola hidup yang bersifat konsumtif dan tidak berorientasi masa depan”. “Kontribusi dari mahasiswa untuk merubah pola pikir masyarakat pesisir pantai yang demikian sangat diperlukan. Seorang mahasiswa atau sekelompok mahasiswa dari satu multidisiplin ilmu yang secara bersama-sama memberikan kontribusinya dalam pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir pantai tidak bisa mengentaskan kemiskinan secara tuntas, perlu adanya relasi dari sekelompok mahasiswa berbagai multidisiplin ilmu secara bersama-sama berfikir dan bekerja mencari solusi dalam pengentasan kemiskinan (Bengen, 2001)”.
Ide kreatif yang diberikan oleh sekelompok mahasiswa dari disiplin ilmu diawali dengan menumbuhkan paradigma “spirit building” dan memberi gambaran terhadap pola hidup yang selalu memperhatikan pendidikan dan masa depan di kalangan masyarakat pesisir pantai. Sasaran utama dalam menumbuhkan paradigma ini adalah anak dari masyarakat pesisir pantai, kerena karakternya masih labil sehingga lebih mudah untuk dipengaruhi. Jadi, ketika tumbuh menjadi dewasa, anak-anak dari masyarakat pesisir pantai  sudah memiliki karakter yang bersifat maju, berorientasi kepada pendidikan dan masa depan. Dalam mewujudkannya, langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan sosialisasi kepada perangkat desa setempat dan tokoh masyarakat yang disegani di lingkungan masyarakat pesisir pantai. Selanjutnya dilakukan sosialisasi terhadap tenaga kesehatan, aparat kepolisian, dan seluruh aspek pelayan masyarakat lainnya, serta para tenaga pendidik yang mendidik anak-anak dari masyarakat pesisir pantai. Mereka diberikan pemahaman-pemahaman khusus tentang pentingnya pendidikan dan masa depan dengan pendekatan secara kearifan lokal. Sedangkan para tenaga pendidik diberi pembekalan-pembekalan khusus supaya dalam melakukan kegiatan pembelajaran memberikan motivasi dalam diri siswa, untuk mengembangkan hard skill dan soft skill dari siswa, pola pembelajaran pengembangan diri dengan permainan seperti yang dilakukan di beberapa universitas perlu diterapkan. Kalau siswa senang dalam pembelajaran, aktif, dan rajin masuk sekolah, ini merupakan indikator yang baik,  berarti pendekatan melalui pembelajaran sekolah berhasil.
Pola pendekatan sosialisasi harus intensif, disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat pesisir pantai, mahasiswa harus berperan aktif, mampu menjelaskan dengan baik, bisa memberikan solusi dan menjadi contoh. Dalam program pemerintah, seperti pemberdayaan masyarakat, mahasiswa sebaiknya juga dilibatkan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi pionir dengan memberikan solusi-solusi yang cerdas dalam penyelesaian dan mahasiswa juga bisa memberi contoh atas solusi-solusi yang diberikan. Dengan karakter masyarakat pesisir pantai yang keras, tentu tidak semudah yang dibayangkan dalam menumbuhkan paradigma tersebut, perlu perjuangan keras dari mahasiswa. Kunci utama yang harus dimiliki mahasiswa adalah sabar, telaten, dan rela berkorban.
Hasil yang diharapkan dalam menyadarkan masyarakat pesisir pantai adalah adanya hasil dari kontribusi mahasiswa yang nyata, hasil tersebut antara lain adalah terciptanya siswa berprestasi dari masyarakat pesisir pantai yang dapat mengharumkan nama daerah tersebut, selain itu solusi yang diberikan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan oleh pemerintah menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan dan diterima oleh masyarakat.
Kontribusi dari bidang psikologi adalah memberikan strategi pembelajaran dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang diterima oleh masyarakat pesisir pantai, memberikan program pelatihan-pelatihan dalam mengembangkan hard skill dan soft skill serta jiwa kewirausahaan masyarakat, memberikan pelayanan konsultasi, serta berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran supaya dalam pelatihan-pelatihan, masyarakat tidak jenuh, selalu senang, dan termotivasi, karena kehadiran mahasiswa bidang psikologi selalu membawa dampak yang ceria dan semangat.
Dalam satu kelompok masyarakat, dalam memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, sebaiknya semua masyarakat harus menerimanya. Demi terciptanya kelompok masyarakat pesisir pantai yang berkompetensi tinggi. Kontribusi dari pemerintah dan mahasiswa juga masih diperlukan dalam pengontrolan dan media konsultasi jika terjadi permasalahan.

Peran mahasiswa sebagai problem solver di kehidupan masyarakat pesisir pantai

Peran mahasiswa sebagai problem solver di kehidupan masyarakat pesisir pantai
“Sebagai sebuah konsep, pengertian tentang mahasiswa masih sering menjadi perdebatan. Perdebatan itu timbul karena mahasiswa di dalam konsepsi dan realitas kenyataannya masih dipandang dari satu aspek saja dari sekian banyaknya kompleksitas pengertian dan realita kehidupan suatu golongan masyarakat. Pertama, Mahasiswa sebagai individu. Mahasiswa adalah individu yang sedang melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tugas pokok mahasiswa adalah untuk mendapatkan keahlian/ketrampilan berdasarkan suatu/sejumlah ilmu tertentu. Kedua, Mahasiswa sebagai suatu kelompok. Kelompok mahasiswa adalah bagian dari unsur masyarakat sipil, yaitu suatu masyarakat yang melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka, sukarela, lahir secara mandiri, otonom dari negara dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai-nilai bersama. Karena itu ketika kita berbicara tentang mahasiwa maka sebenarnya yang kita bicarakan adalah tentang gerakan mahasiswa. Mahasiswa sebagai suatu gerakan adalah suatu kelompok masyarakat yang memiliki karakter kritis, independen, dan obyektif. Impelmentasi dari hal ini diwujudkan dalam karakter gerakannya (Risbiyantoro, 2005)”.
Mahasiswa Indonesia memiliki cita-cita khusus dalam menunaikan tugas masa depannya yaitu mahasiswa dibentuk menjadi : (1) orang yang berjiwa bangsa Indonesia; (2) orang yang berbudaya Indonesia; (3) orang yang mempunyai dasar dan kenyataan hidup yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, dan demokratis; (4) orang yang mempunyai kecakapan dan kesiapan untuk menunaikan pertanggunganjawaban terhadap pembangunan, pemeliharaan dan perkembangan kebudayaan dan hidup kemasyarakatan, agar tercapai kebahagiaan dan kesejahteraan bangsa dan negara khususnya dan dunia pada umumnya. Terkait dengan cita-cita yang keempat, bahwa mahasiswa yang diharapkan bangsa adalah mahasiswa yang tidak lagi cemas dengan dirinya sendiri, tetapi cemas dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, mahasiswa diarahkan bagaimana menuntut ilmu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmunya bagi keadaban, kemanfaatan, dan kebahagiaan bangsa. Dalam kehidupan di masyarakat, mahasiswa diharapkan menjadi problem solver. Lebih jauh lagi, selain menjadi problem solver bagi lingkungannya, mahasiswa diharapkan dapat menjadi  trend setter  dan  role model  dalam kemajuan dan inovasi yang mempertimbangkan kearifan lokal (Anonim, 2011a)”. Di tengah masih banyaknya persoalan sosial ekonomi di negeri ini, dampak dari kemiskinan yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai semakin membebani khususnya masyarakat pesisir pantai dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dampak dari kemiskinan umumnya berkembang menjadi masalah sosial, seperti pengangguran, kerentanan (vulnerability) dan menurunnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Bagi sebagian masyarakat pesisir pantai hal ini menyebabkan  hilangnya jaminan masa depan (Bengen, 2001)”.
Dari uraian di atas, jelas penanganan kemiskinan masyarakat pesisir pantai  memerlukan kerjasama multidisiplin ilmu oleh semua pihak, termasuk mahasiswa.  Inilah ajang yang tepat bagi mahasiswa untuk menjadi problem solver terhadap  masalah yang terjadi di daerah pesisir pantai dengan mengaplikasikan ilmunya sekaligus memberikan semangat, sumbangan ide kreatif, pikiran, gagasan maupun tenaga yang bermanfaat pada masyarakat pesisir pantai. Semua mahasiswa, dari berbagai bidang ilmu, dapat berkontribusi dengan berbagai cara untuk pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir pantai (Anonim, 2011a)”.

Kehidupan masyarakat pesisir pantai

Kehidupan masyarakat pesisir pantai
“Berbagai hasil kajian penelitian, selama ini, tentang kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir pantai telah mengungkapkan bahwa sebagian besar dari mereka, khususnya yang tergolong nelayan buruh atau nelayan-nelayan kecil, hidup dalam kubangan kemiskinan. Kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal kehidupan sehari-hari sangat terbatas. Bagi masyarakat nelayan, diantara beberapa jenis kebutuhan pokok kehidupan, kebutuhan yang paling penting adalah pangan. Adanya jaminan pemenuhan kebutuhan pangan setiap hari sangat berperan besar untuk menjaga kelangsungan hidup mereka (Kusnadi, 2006)”. “Para pakar ekonomi sumberdaya melihat kemiskinan masyarakat pesisir, khususnya nelayan lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial ekonomi yang terkait karakteristik sumberdaya serta teknologi yang digunakan. Faktor faktor  yang  dimaksud membuat nelayan tetap dalam kemiskinannya (Gordon, 1954)”.
“Smith (1981) yang mengadakan kajian pembangunan perikanan di berbagai negara Asia, negara-negara Eropa dan Amerika Utara tiba pada kesimpulan bahwa kekakuan aset perikanan (fixity and rigidity of fishing assets) adalah alasan utama kenapa nelayan tetap tinggal atau bergelut dengan kemiskinan dan sepertinya tidak ada upaya mereka untuk keluar dari kemiskinan itu. Kekakuan aset tersebut adalah karena sifat aset perikanan yang begitu rupa sehingga sulit untuk dilikuidasi atau diubah bentuk dan fungsinya untuk digunakan bagi kepentingan lain. Akibatnya pada saat produktivitas aset tersebut rendah, nelayan tidak mampu untuk mengalih fungsikan atau melikuidasi aset tersebut. Karena itu, meskipun rendah produktivitas, nelayan tetap melakukan operasi penangkapan ikan, yang sesungguhnya tidak lagi efisien secara ekonomis“.
“Bengen (2001) mengajukan argumen lain yaitu bahwa nelayan tetap tinggal pada industri perikanan karena rendahnya opportunity cost mereka. Opportunity cost nelayan, menurut definisi adalah kemungkinan atau alternatif kegiatan atau usaha ekonomi lain yang terbaik yang dapat diperoleh selain menangkap ikan. Dengan kata lain, opportunity cost adalah kemungkinan  lain yang bisa dikerjakan nelayan bila saja mereka tidak menangkap ikan. Bila opportunity cost rendah maka nelayan cenderung tetap melaksanakan usahanya meskipun usaha tersebut tidak lagi menguntungkan dan efisien. Ada juga argumen yang mengatakan bahwa opportunity cost nelayan, khususnya di negara berkembang, sangat kecil dan cenderung mendekati nihil. Bila demikian maka nelayan tidak punya pilihan lain sebagai mata pencahariannya. Dengan demikian apa yang terjadi, nelayan tetap bekerja sebagai nelayan karena hanya itu yang bisa dikerjakan”.
“Smith (1981) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular way of life)”. “Nelayan lebih senang memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan dan bukan berlaku  sebagai pelaku yang semata-mata beorientasi pada peningkatan pendapatan. Karena way of life yang demikian maka apapun yang terjadi dengan keadaannya, hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah baginya. Way of life sangat sukar dirubah. Karena itu maka meskipun menurut pandangan orang lain nelayan hidup dalam kemiskinan, bagi nelayan itu bukan kemiskinan dan mereka merasa bahagia dengan kehidupan itu (Gordon, 1954)”.

Kondisi wilayah pesisir pantai dan potensinya

Kondisi wilayah pesisir pantai dan potensinya
“Pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam konteks bentang alam, wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan (Kay, 1999)“. “Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting ditinjau dari berbagai sudut pandang perencanaan dan pengelolaan. Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia (Rokhimin, 1999)”.
“Wilayah pesisir merupakan sumber daya yang potensial, merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Sumber daya ini sangat besar yang  didukung  oleh adanya garis pantai sepanjang sekitar 81.000 km  (Tarumingkeng, 2001)”. “Garis pantai yang panjang ini menyimpan potensi kekayaan sumber alam  yang besar. Potensi itu diantaranya potensi hayati dan non hayati. Potensi hayati misalnya: perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang, sedangkan potensi nonhayati misalnya: mineral dan bahan tambang serta pariwisata. Ada lagi potensi yang perlu dikembangkan di wilayah pesisir pantai yang masih belum diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat pesisir pantai, justru apabila dimanfaatkan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghasilkan manfaat yang luar biasa, adalah lahan pasir pantai yang dimanfaatkan sebagai ladang pertanian (Rokhimin, 1999)”.

Artikel

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...

Artikel Populer