Tampilkan postingan dengan label cs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cs. Tampilkan semua postingan

KEKUATAN DAN KONTRIBUSI TERAPI STRUKTURAL


KEKUATAN DAN KONTRIBUSI TERAPI STRUKTURAL
Terapi keluarga struktural unik dalam kontribusinya terhadap konseling dalam cara-cara berikut ini:
1.  Pendekatan ini cukup fleksibel dan cocok diterapkan untuk keluarga dengan tingkat ekonomi menengah serta keluarga dengan penghasilan tinggi (Minuchin, Colapinto & Minuchin, 1999).
2. Pendekatan ini efektif digunakan untuk merawat kriminal muda, alkoholik dan penderita anorexia (Fishman, 1988).
3. Pendekatan ini sensitif secara kultural dan tepat untuk digunakan dalam berbagai kultural.
4. Pendekatan ini jelas dalam definisi, istilah-istilah dan prosedurnya, juga mudah diterapkan.
5. Pendekatan ini menekankan penghilangan symptom dan suatu reorganisasi keluarga dalam suatu cara yang pragmatic.

KETERBATASAN
Pendekatan struktural mempunyai keterbatasan utama tersebut di bawah ini:
1. Banyak kritik yang menyatakan bahwa pendekatan ini tidak cukup kompleks, dapat menjadi ekstrim pada saat tertentu dan terlalu berfokus pada masa sekarang.
2. Tuduhan bahwa terapi struktural telah dipengaruhi oleh terapi keluarga strategis dan tuntutan bahwa pendekatan ini sulit untuk dibedakan dari terapi strategis pada saat tertentu akan menjadi masalah.
3. Karena konselor adalah yang berwenang pada proses perubahan, maka keluarga tidak didukung sepenuhnya, yang dapat membatasi perkembangan mereka secara keseluruhan di masa mendatang (Friesen, 1985).

TEKNIK TERAPI STRUKTURAL

TEKNIK TERAPI STRUKTURAL
Boundary-making
Boundary making adalah teknik struktural, dimana fungsi-fungsi psikologis dan fisik diberi jarak dalam sistem terapi keluarga yang kepentingannya sebagai proses diferensiasi. Tujuannya adalah mengurangi keterlibatan “over-involvement” dalam sistem keluarga dengan kontruksi yang baru, batas fungsional antara sub-sistem keluarga. Terapis dapat membuat simbol batas “boundaries” dengan menyusun kembali tempat atau susunan dengan menggunakan gerak tangan untuk memberhentikan atau memotong komentar.

Joining
Joining adalah seperangkat teknik dimana seorang terapis mencoba masuk dalam sistem keluarga dan menyusun tipe hubungan dengan keluarga. Memposisikan diri dalam keluarga mengizinkan terapis untuk merubah transaksi disfungsional keluarga, minimalisir simtom, dan mereduksi konflik dan tekanan (Minuchin dan Fishman, 1981). Joining mengizinkan keluarga terhadap kehadiran terapis untuk membantu dan menentramkan hati keluarga dengan support, memberi pemahaman, dan menetapkan atau memperkuat.

Tracking
Tracking dihubungkan dengan kehati-hatian terapis, serta keseriusan terapis pada saat mendengar dialog yang terjadi dalam keluarga, baik menyangkut tingkah laku dalam ibadah, dan komunikasi. Tracking memberikan informasi tentang interaksi yang terjadi dalam keluarga, struktur, peran, proses, dan kontens masalah.

Mimesis
Mimesis adalah adopsi tentang gaya komunikasi keluarga, akibat dari humor, cara berbicara, tempo dan tingkatan komunikasi, usaha ini dilakukan untuk mengakomodasikan sekaligus kerjasama dengan keluarga.

Familiy mapping
Family mapping menggambarkan struktur disfungsional keluarga. Sistem dan subsistem adalah gambaran dan tanda/label untuk klarifikasi.

Actualization
Aktualisasi dihubungkan dengan proses pembuatan atau memainkan kembali pola transaksi keluarga secara terpisah dalam beberapa sesi. Minuchin and Fishman (1981) mendiskusikan tiga tipe tentang enactment:
Memerankan dalam sebuah format secara spontan sebagai akibat dari sebuah kejadian dimana terapis mengobservasi dan memainkan kembali format kejadian seterusnya.
Seorang terapis mungkin bertanya pada keluarga untuk membuat kebiasaan cara interaksi dan kemudian melakukan intervensi untuk perubahan naskah “script”, mengharuskan keluarga untuk menemukan solusi baru. Tipe ini digunakan untuk mendiagnosa dan menyusun kembali tujuan yang dicapai.
Perubahan encatment terjadi ketika ada sesuatu yang beru, interaksi terjadi dengan sukses. Individu dengan pengalaman dirinya kemudian yang kompeten dan terpecaya mengorganisasikan dan membuat perbedaan interaksi secara menyeluruh.

Intensity
Teknik intensity mencoba mencari tema-tema penting dalam keluarga atau penekanannya pada sebuah harapan yang pada akhirnya sebagai modifikasi dari interaksi keluarga. Sebagai contoh terapis mungkin mengijinkan pada seorang anak yang memiliki ledakan amarah dalam sebuah sesi kemudian orang tua mendorong untuk menerima dan mengontrol situasi.

Unbalancing
Teknik unbalancing mencoba untuk memecahkan konflik yang buntu dan disfungsi hirarki antara anggota keluarga dalam sebuah subsistem. Agar menjadi efektif, terapis pertama harus bekerjasama dengan pemimpin keluarga dan berafiliasi dengan anggota keluarga lain dalam sebuah sistem.

Reframing or relabing
Teknik reframing atau relabeling digunakan oleh terpis struktural, strategis, dan teknik kelurga behavioral. Dalam teknik reframing, terapis merubah informasi yang dihadirkan oleh keluarga untuk menerima sesuatu yang baru dan makna yang lebih membantu.


Use of Cognitif Contructions
Cognitive constructions dihubungkan dengan providing keluarga dengan gambaran alternatif sebagai bagian dari pengalaman mereka. Perubahan kognisi memberikan nilai tambah untuk meningkatkan interaksi.

Selamat Ulang Tahun _ JAMBRUD

Hari ini
Hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun, usiamu
Bahagialah slalu

Jamrud

Yang kuberi
Bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga atau puisi
Juga kalung hati

Maaf, bukannya pelit
Atau nggak mau bermodal dikit
Yang ingin aku, beri padamu
Do'a s'tulus hati…

Smoga Tuhan, melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah mudahan diberi umur panjang
Sehat selama lamanya…

Smoga Tuhan, melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah mudahan diberi umur panjang
Sehat selama lamanya…
Selamat ulang tahun

Teori sosial kognitif



Teori sosial kognitif adalah pengertian tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Seorang model di dalam lingkungan, misalnya teman atau anggota keluarga di dalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling atau peniruan merupakan the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis, 2000). Sebagai contoh, ketika seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara mengikat sepatu dengan memeragakannya berulang kali sehingga anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses ini disebut proses modeling. Sebagai tambahan bagi proses peniruan interpersonal, proses modeling dapat juga terlihat pada narasumber yang ditampilkan oleh media. Di dalam kasus ini, teori kognitif sosial kembali ke konsep dasar rewards and punishments tetapi menempatkannya dalam konteks belajar sosial.
Teori sosial kognitif menyatakan bahwa faktor-faktor sosial, kognitif dan tingkah laku memainkan peranan penting dalam pembelajaran (Santrock, 2001). Faktor kognitif akan mempengaruhi wawasan individu tentang pemahaman; sementara faktor sosial, termasuk perhatian individu tentang tingkah laku dan imitasi lingkungannya, akan mempengaruhi tingkah laku individu.
Teori sosial kognitif menganggap manusia sebagai makhluk yang aktif, berupaya membuat pilihan dan menggunakan proses-proses perkembangan untuk menyimpulkan peristiwa serta berkomunikasi dengan orang lain. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh pengaruh lingkungan dan sejarah perkembangan seseorang atau bertindak pasif terhadap pengaruh lingkungan. Dalam banyak hal, manusia adalah selektif dan bukan individu yang pasif, yang boleh dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka.
Bandura (1977) menyatakan bahwa "Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely on the effects of their own action to inform them what to do. Fortunately, most human behavior is learned observationally through modeling: from observing others one form an idea of her new behavior are performed, and on later occasion this coded information serves as a guide for action".
Bandura (1977) menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahawa judi itu adalah tidak baik.
Teori sosial kognitif juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana individu belajar dalam keadaan atau lingkungan yang sebenarnya. Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa tingkah laku (B = behavior), lingkungan (E = environment) dan kejadian-kejadian internal pada individu yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P = perception) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh atau berkaitan (interlocking). Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.

TENTANG TERAPI STRUKTURAL


TENTANG TERAPI STRUKTURAL
Terapi keluarga struktural lebih mendekatkan pentingnya proses daripada isi dan melihat struktur keluarga sebagai struktur yang terdiri atas sejumlah transaksi komunikasi keluarga. Terapi keluarga struktural menelaah subsistem-subsistem, batas-batas, koalisi-koalisi, dan cara-cara habitual yang digunakandalam menjalankan urusannya. Terapis keluarga struktural memberikan perhatian khusus pada beberapa subsistem yang ada dalam struktur keluarga itu. Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa subsistem dapat terbentuk berdasarkan beberapa fungsi atau karakteristik yang sama, dan ada kemungkinan bagi para anggota keluarga untuk menjadi anggota banyak sistem sekaligus. Beberapa sub-sistem ditentukan oleh batas-batasnya, dan batas-batas itu bisa bersifat kaku, jelas atau kabur.
Dalam terapi keluarga struktural, proses intervensinya biasanya bergerak maju melalui tiga langkah umum. Pertama, terapis berusaha bergabung dengan dan diakomodasi oleh sistem keluarga itu. Ini biasanya mengharuskan sang terapi untuk menyesuaikan diri dengan proses komunikasi dan persepsi keluarga itu. Kedua, proses pembentukan diagnosis struktural dimulai dengan proses bergabung dengan keluarga dan berlanjut di sepanjang keterlibatan terapis. Proses ini biasanya membutuhkan observasi terus-menerus terhadap keluarga itu serta proses pengujian dan reformulasi hipotesis yang terus-menerus tentang struktur keluarga beserta kualitas dan fungsi transaksinya. Ketiga, ketika proses terapeutik bergerak maju, terapis struktural berusaha menggunakan intervensi-intervensi yang akan menghasilkan restrukturisasi sistem keluarga menjadi sistem yang mampu mengatasi stress kehidupan yang dihadapi oleh keluarga dan anggota-anggotanya secara efektif (dalam Sunberg, 2007).

Sudut pandang sifat manusia
Setiap keluarga mempunyai suatu struktur menurut Minuchin (1974). Sebuah struktur adalah cara informal dalam keluarga selama-lamanya. Jika terdapat struktur yang hierarki, orang dapat berhubungan dengan baik dengan orang lain. Bagaimanapun juga, jika tidak terdapat struktur atau struktur yang kecil, perkembangan atau peristiwa situasional dapat meningkatkan ketegangan, kekakuan, kekacauan dan disfungsionalitas keluarga, yang melemparkan keluarga tersebut ke dalam krisis. Pada kondisi semacam itu, koalisi (misal, persekutuan antara anggota keluarga tertentu terhadap suatu anggota ke tiga) atau persekutuan lintas generasi (persekutuan antara anggota keluarga dari dua generasi yang berbeda) akan muncul (dalam Wulandari, 2013).

Peranan konselor
Para praktisi konseling keluarga struktural merupakan pengamat sekaligus ahli dalam menciptakan intervensi untuk mengubah dan memodifikasi struktur yang menggaris-bawahi suatu keluarga. Perwakilan bagi perubahan struktural dalam organisasi unit keluarga, dengan perhatian tertentu pada mengubah pola interaksional dalam subsistem keluarga seperti dyad marital. Mereka juga bekerja untuk menetapkan batasan yang jelas antara anggota keluarga (Minuchin, Moltalvo, Gurney, Rosman & Schumer, 1967).
Dalam bekerja dengan keluarga, konselor struktural bergabung dengan keluarga tersebut dalam posisi sebagai pemimpin. Mereka memetakan struktur keluarga tersebut di dalam pikiran mereka, menentukan bagaimana keluarga tersebut dapat terjebak dalam suatu pola yang disfungsional, dan bagaimana mengubahnya (dalam Wulandari, 2013).

Tujuan
Tujuan utama terapi keluarga struktural adalah untuk menangani berbagai masalah keluarga dengan mengubah struktur sistemik yang mendasarinya. Penekanan ini lebih menekankan pada tindakan dan proses daripada insight, dansesi-sesi terapinya biasanya bersifat aktif (Minuchin; Minuchin dan Nichols dalam Sunberg, 2007).


Sumber :


Sunberg, N. D. (2007). Psikologi Klinis: Perkembangan Teori, Praktik dan Penelitian Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wulandari, S. (2013). Modul 13: Teori-Teori Perilaku, Kognitif, Sistemik, Brief dan Krisis dari Konseling. Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana. http://sri.wulandari.staff.mercubuana.ac.id/dl.php diakses pada 10 April 2013.
 

Artikel

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...

Artikel Populer