Tahapan Perkembangan Anak Balita (0-59 bulan) dan Anak Pra-Sekolah (60-72 bulan)


Tahapan Perkembangan Anak Balita (0-59 bulan) dan Anak Pra-Sekolah (60-72 bulan)





Orang tua, pengasuh dan pendidik perlu mengetahui tahapan perkembangan anak (anak didik), apakah perkembangannya berlangsung normal atau ada penyimpangan. Bilamana pendidik mencurigai anak didiknya mengalami penyimpangan perkembangan atau terlambat berkembang dibandingkan dengan usianya maka dapat memberitahu orang tua agar segera memeriksakan anaknya ke fasilitas kesehatan sehingga dapat ditanggulangi secara dini.
Beberapa hal yang perlu diketahui tentang proses tumbuh kembang anak yaitu proses pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan. Secara umum ciri-ciri tumbuh kembang anak adalah:
  • Pertumbuhan dan perkembangan terjadi bersamaan dan berkorelasi. Misalnya: pertumbuhan otak dan serabut syaraf anak akan disertai perubahan fungsi yaitu perkembangan intelegensianya.
  • Perkembangan mempunyai pola yang teratur dan berurutan. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan tahap selanjutnya. Misalnya: sebelum anak bisa berjalan, ia harus bisa berdiri dahulu.
  • Perkembangan fungsi organ tubuh mempunyai pola yang tetap yaitu: perkembangan lebih dahulu terjadi pada daerah kepala kemudian menuju kearah bawah (kaudal), perkembangan terjadi pada kemampuan gerak kasar terlebih dahulu, kemudian diikuti kemampuan gerak halus.
  • Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses dari dalam (intrinsik) yang terjadi dengan sendirinya sesuai bakat dan potensi anak. Sedangkan proses belajar akan mengasah kemampuan anak sehingga anak memiliki kemampuan menggunakan sumber dan potensi yang diwariskan pada anak.
  • Perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak dari tahapan umum ketahapan spesifik yang terjadi secara teratur dan berkesinambungan. Dengan demikian tahapan perkembangan seorang anak dapat diramalkan.
Tahapan perkembangan anak yang berusia 0-72 bulan sebagai berikut:
Usia 0-3 bulan:
  • Mengangkat kepala setinggi 45°
  • Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah
  • Melihat dan menatap wajah anda
  • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh 
  • Suka tertawa keras 
  • Bereaksi terkejut terhadap suara keras
  • Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
  • Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak

Usia 3-6 bulan:
  • Berbalik dari telungkup ke telentang
  • Mengangkat kepala setinggi 90°
  • Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
  • Menggenggam pensil
  • Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
  • Memegang tangannya sendiri
  • Berusaha memperluas pandangan
  • Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
  • Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
  • Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri
Usia 6-9 bulan:
  • Duduk sendiri (dalam sikap bersila)
  • Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
  • Merangkak dan meraih mainan atau mendekati seseorang
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
  • Memungut dua benda, masing-masing tangan memegang satu benda pada saat yang bersamaan
  • Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
  • Bersuara tanpa arti seperti: mamama, bababa, dadada, tatata
  • Mencari mainan/benda yang dijatuhkan
  • Bermain tepuk tangan/cilukba
  • Bergembira dengan melempar benda
  • Makan kue sendiri
Usia 9-12 bulan:
  • Mengangkat badannya ke posisi berdiri
  • Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
  • Dapat berjalan dengan dituntun
  • Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
  • Mengenggam erat pensil
  • Memasukkan benda ke mulut
  • Mengulang menirukan bunyi yang didengar
  • Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
  • Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
  • Bereaksi terhadap suara bisikan (perlahan)
  • Senang diajak bermain "CILUK BA"
  • Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal
 Usia 12-18 bulan:
  • Berdiri sendiri tanpa berpegangan
  • Membungkuk untuk memungut mainan kemudian berdiri kembali
  • Berjalan mundur 5 langkah
  • Memanggil ayah dengan kata "papa", memanggil ibu dengan kata "mama".
  • Menumpuk dua buah kubus
  • Memasukkan kubus di kotak
  • Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
  • Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing
Usia 18-24 bulan:
  • Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik
  • Berjalan tanpa terhuyung-huyung
  • Bertepuk tangan, melambai-lambai
  • Menumpuk empat buah kubus
  • Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Menggelindingkan bola kearah sasaran
  • Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti
  • Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
  • Memegang cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri
 Usia 24-36 bulan:
  • Jalan menaiki tangga sendiri
  • Dapat bermain dan menendang bola kecil
  • Mencoret-coret pensil pada kertas
  • Bicara dengan baik, menggunakan dua kata
  • Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
  • Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih
  • Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu membawa suatu benda jika diminta
  • Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
  • Melepas pakaiannya sendiri
Usia 36-48 bulan:
  • Berdiri pada satu kaki selama 2 detik
  • Melompat dengan kedua kaki diangkat
  • Mengayuh sepeda roda tiga
  • Menggambar garis lurus
  • Menumpuk 8 buah kubus
  • Mengenal 2-4 warna
  • Menyebut nama, umur, tempat.
  • Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan
  • Mendengarkan cerita
  • Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
  • Bermain bersama ternan, mengikuti aturan permainan
  • Mengenakan sepatu sendiri
  • Mengenakan celana panjang, kemeja, baju
Usia 48-60 bulan:
  • Berdiri pada satu kaki selama 6 detik
  • Melompat dengan kedua kaki diangkat
  • Mengayuh sepeda roda tiga
  • Menggambar garis lurus
  • Menumpuk 8 buah kubus
  • Mengenal 2-4 warna
  • Menyebut nama, Usia, tempat
  • Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan
  • Mendengarkan cerita
  • Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
  • Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
  • Mengenakan sepatu sendiri
  • Mengenakan celana panjang, kemeja, baju

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat.



BIOGRAFI

Nama                           :           Raden Mas Soewardi Soeryaningrat.
                                                ( Ki Hajar Dewantara )          
Tempat/tanggal lahir   :           Yogyakarta, 02 Mei 1889
Status                          :           Pahlawan Pergerakan Nasional
( Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305/ Tahun 1959, tanggal 28 Nopember 1959 )

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
            Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS ( Sekolah Dasar Belanda ) Kemudian sempat melanjutkan ke STOVIA ( Sekolah Dokter Bumiputera ), Tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyatomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
            Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker    ( Dr. Danudirdja Setyabudhi ) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij  ( partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia ) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia Merdeka.
            Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakkan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
            Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumiputra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Bumiputra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.
            Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een ( Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga ). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Express milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi :
“ Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyusuh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu ! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan – kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun “.
            Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering ( hukum buang ) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tingggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.
            Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerintah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang ke Kupang dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke Pulau Banda.
            Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa mempelajari banyak hal dari pada daerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
            Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa ( Perguruan Nasional Tamansiswa ) pada 03 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintangi dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 01 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.
            Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman siswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
            Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintahan Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat    ( Putera ) dalan tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir.Soekarno , Drs. Mohammad Hatta dan K. H. Mas Mansur.
            Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ( Bapak Pendidikan Nasional ) yang tanggal kelahirannya 02 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No. 305/tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.
            Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hajar Dewantara sebagai pendiri Taman siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hajar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.
            Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.
            Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri Handayani ( di belakang memberi dorongan ), ing madya mangun karsa ( di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa ), ing ngarsa sung tuladha ( di depan memberi teladan ).      


Waiting For The End Lyrics


Waiting For The End Lyrics

This is not the end
This is not the beginning,
Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violent rhythm
Though the words sound steady
Something empty's within 'em

We say Yeah!
With fists flying up in the air
Like we're holding onto something
That's invisible there,
 'Cause we're living at the mercy of
The pain and the fear
Until we dead it, Forget it,
Let it all disappear.

Waiting for the end to come
Wishing I had strength to stand
This is not what I had planned
It's out of my control....

Flying at the speed of light
Thoughts were spinning in my head
So many things were left unsaid
It's hard to let you go...

(Oh!) I know what it takes to move on,
 I know how it feels to lie,
All I wanna do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got

Sitting in an empty room
Trying to forget the past
This was never meant to last,
I wish it wasn't so...

(Oh!) I know what it takes to move on,
I know how it feels to lie,
All I wanna do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got

What was left when that fire was gone?
I thought it felt right but that right was wrong
All caught up in the eye of the storm
And trying to figure out what it's like moving on
And i don't even know what kind of things I've said
My mouth kept moving and my mind went dead
So, picking up the pieces, now where to begin?
The hardest part of ending Is starting again!!

All I wanna do
Is trade this life for something new
Holding on to what i haven't got...

This is not the end
This is not the beginning,
 Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violet rhythm
Though the words sound steady
Something empty's within 'em
(Holding on to what i haven't got)

We say Yeah!
With fists flying up in the air
Like we're holding onto something
That's invisible there,
'Cause we're living at the mercy of
The pain and the fear
Until we dead it, Forget it,
Let it all disappear
(Holding on to what i haven't got!)

Lirik syi’ir tanpo waton



Ngawiti ingsun nglaras syi’iran                       : (aku memulai menembangkan syi’ir)

Kelawan muji maring Pengeran                      : (dengan memuji kepada Tuhan)

Kang paring rohmat lan kenikmatan               : (yang memberi rohmat dan kenikmatan)

Rino wengine tanpo pitungan 2x                    : (siang dan malamnya tanpa terhitung)

Duh bolo konco priyo wanito                         : (wahai para teman pria dan wanita)

Ojo mung ngaji syareat bloko                        : (jangan hanya belajar syari’at saja)

Gur pinter ndongeng nulis lan moco              : (hanya pandai bicara, menulis dan membaca)

Tembe mburine bakal sengsoro 2x                 : (esok hari bakal sengsara)

Akeh kang apal Qur’an Haditse                      : (banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)

Seneng ngafirke marang liyane                      : (senang mengkafirkan kepada orang lain)

Kafire dewe dak digatekke                            : (kafirnya sendiri tak dihiraukan)

Yen isih kotor ati akale 2x                             : (jika masih kotor hati dan akalnya)


Gampang kabujuk nafsu angkoro                   : (gampang terbujuk nafsu angkara)

Ing pepaese gebyare ndunyo                         : (dalam hiasan gemerlapnya dunia)

Iri lan meri sugihe tonggo                             : (iri dan dengki kekayaan tetangga)

Mulo atine peteng lan nisto 2x                      : (maka hatinya gelap dan nista)

Ayo sedulur jo nglaleake                              : (ayo saudara jangan melupakan)

Wajibe ngaji sak pranatane                          : (wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)

Nggo ngandelake iman tauhide                     : (untuk mempertebal iman tauhidnya)

Baguse sangu mulyo matine 2x                     : (bagusnya bekal mulia matinya)

Kang aran sholeh bagus atine                       : (Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)

Kerono mapan seri ngelmune                       : (karena mapan lengkap ilmunya)

Laku thoriqot lan ma’rifate                         : (menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)

Ugo haqiqot manjing rasane 2x                    : (juga hakikat meresap rasanya)

Al Qur’an qodim wahyu minulyo                  : (Al Qur’an qodim wahyu mulia)

Tanpo tinulis biso diwoco                            : (tanpa ditulis bisa dibaca)

Iku wejangan guru waskito                          : (itulah petuah guru mumpuni)

Den tancepake ing jero dodo 2x                  : (ditancapkan di dalam dada)

Kumantil ati lan pikiran                               : (menempel di hati dan pikiran)

Mrasuk ing badan kabeh jeroan                    : (merasuk dalam badan dan seluruh hati)

Mu’jizat Rosul dadi pedoman                       : (mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman)

Minongko dalan manjinge iman 2x               : (sebagai sarana jalan masuknya iman)

Kelawan Alloh Kang Moho Suci                     : (Kepada Alloh Yang Maha Suci)

Kudu rangkulan rino lan wengi                     : (harus mendekatkan diri siang dan malam)

Ditirakati diriyadohi                                    : (diusahakan dengan sungguh2 secara ihlas)

Dzikir lan suluk jo nganti lali 2x                   : (dzikir dan suluk jangan sampai lupa)

Uripe ayem rumongso aman                         : (hidupnya tentram merasa aman)

Dununge roso tondo yen iman                      : (mantabnya rasa tandanya beriman)

Sabar narimo najan pas-pasan                     : (sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)

Kabeh tinakdir saking Pengeran 2x              : (semua itu adalah takdir dari Tuhan)

Kelawan konco dulur lan tonggo                  : (terhadap teman, saudara dan tetangga)

Kang podho rukun ojo dursilo                      : (yang rukunlah jangan bertengkar)

Iku sunahe Rosul kang mulyo                       : (itu sunnahnya Rosul yang mulia)

Nabi Muhammad panutan kito 2x                : (Nabi Muhammad tauladan kita)

Ayo nglakoni sakabehane                            : (ayo jalani semuanya)

Alloh kang bakal ngangkat drajate              : (Allah yang akan mengangkat derajatnya)

Senajan asor toto dhohire                          : (Walaupun rendah tampilan dhohirnya)

Ananging mulyo maqom drajate 2x            : (namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)

Lamun palastro ing pungkasane                  : (ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)

Ora kesasar roh lan sukmane                      : (tidak tersesat roh dan sukmanya)

Den gadang Alloh swargo manggone            : (dirindukan Allah surga tempatnya)

Utuh mayite ugo ulese 2x                           : (utuh jasadnya juga kain kafannya)

Artikel

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...

Artikel Populer