ANOVA & ANACOVA
Ada
dua pendekatan yang bisa dipakai oleh peneliti dalam menguji efektifitas
perlakuan. Pertama menggunakan gain score, kadang disebut dengan change score,
atau differences score yang diuji melui analisis varians (ANOVA). Kedua,
merupakan pendekatan yang relatif lebih baru, yaitu menggunakan analisis
kovarians (ANCOVA) dengan menempatkan skor pre-test atau baseline sebagai
kovariat dan post-test sebagai variabel dependen. Pendekatan yang kedua yang
berbasis kovariat inilah yang kemudian memperluas fungsi pemodelan persamaan
struktural (SEM) dalam kancah penelitian eksperimental.
Berikut ini perbandingan antar kedua pendekatan tersebut. Saya lampirkan kutipan pendapat beberapa ahli agar membawa kita pada diskusi yang lebih komprehensif.
ANOVA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KETIKA :
1) Perbedaan kondisi awal (pretest) antara kelompok perlakuan dan kontrol adalah signifikan.
“The analysis of gain scores is always appropriate, and that ANCOVA will bias results in non-equivalent groups or observational designs” (Fitzmaurice, Laird, & Ware, 2004)
2) Desain eksperimen memiliki lebih dari satu pretest (multiple baseline)
“ Equal change between repeated pretests of treated and control group suggests the use of ANOVA of change rather than ANCOVA” (van Breukelen, 2005).
ANCOVA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KETIKA :
1) Menggunakan randomized design.
“ANCOVA assumes that there is no group difference at pretest. This assumption is warranted if treatment assignment is based on randomization or on the pretest” (van Breukelen, 2005)
2) Kondisi awal antara kelompok kontrol dan eksperimen adalah setara. Misalnya terapi depresi diberikan pada subjek dengan skor BDI sedang (19-25). Selain itu jika kondisi awal (pretest) antar kelompok adalah setara maka ANCOVA bisa diterapkan.
“ANCOVA addresses a conditional hypothesis. Thus, the question that ANCOVA answers may begin with an untenable assumption, that two participants have equivalent scores at baseline “ (Jamieson, 1999)
3) Banyak subjek yang bisa mencapai skor maksimal pengukuran (ceiling effect) sehingga varians skor mengalami penurunan.
“When post-test variance decreased (e.g., ceiling effect) difference scores lost power, while the power of regression based methods (analysis of covariance and partial correlations) and structural equation measures of change were unaffected “ (Cribbie & Jamieson, 2004)
.
BEBERAPA CATATAN :
1) ANCOVA dan ANOVA memfokuskan pada hal yang berbeda. ANCOVA memusatkan pada perbedaan efek perlakuan sedangkan ANOVA pada perubahan skor.
“ANCOVA tests the hypothesis of equivalence of adjusted means, assuming the groups were equivalent on the pretest.…ANOVA on difference scores tests the hypothesis of equivalence of means of differences, regardless of the pretest differences between groups”
“The analysis of gain scores answers a different research question than ANCOVA. The analysis of gains, for example, focuses on the improvements from pretest to posttest for whole groups. The gain score, however, tells us precisely how scores changed from pretest to posttest. (Smolkowski, 2010)
An ANCOVA, the alternative to gain scores, focuses on differences between the treatment groups at posttest while holding constant pretest differences. The ANCOVA, then, does not inform about the how the groups changed over time (Smolkowski, 2010).
2) Pada desain randomized, ANOVA dan ANCOVA akan memberikan hasil yang mirip, namun berbeda dalam hal ukuran efek dan powernya.
“ With the assumption of an equivalent comparison group, an analysis of gain scores should give similar results to an ANCOVA” (Maxwell & Delaney, 1990)
3) Penggunaan ANCOVA mensyaratkan pengukuran yang memiliki eror pengukuran rendah.
Eror pengukuran yang rendah ini artinya reliabilitas pengukuran yang dilakukan memuaskan.
“ It is critically important to use reliable measures and precisely measure variables consistently across subjects and over time, especially when using ANCOVA models” (Oakes & Feldman, 2001)
In the presence of measurement error, change-score models may be equally or even more powerful” (Fitzmaurice, Laird, & Ware, 2004)..
4) Untuk kasus skor yang banyak mengandung skor terendah atau tertinggi (floor dan ceiling) direkomendasikan menggunakan ANAKOVA akan tetapi berbasis SEM karena harus melibatkan konstrak laten.
Specifically, for subjects with equal actual change, an easy test (a ceiling effect test) … (or) … a difficult test (a floor effect test) …. These problems with raw-score differences are eliminated by using modern approaches such as structural equation modeling (Dimitrov & Rumrill, 2003)
Berikut ini perbandingan antar kedua pendekatan tersebut. Saya lampirkan kutipan pendapat beberapa ahli agar membawa kita pada diskusi yang lebih komprehensif.
ANOVA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KETIKA :
1) Perbedaan kondisi awal (pretest) antara kelompok perlakuan dan kontrol adalah signifikan.
“The analysis of gain scores is always appropriate, and that ANCOVA will bias results in non-equivalent groups or observational designs” (Fitzmaurice, Laird, & Ware, 2004)
2) Desain eksperimen memiliki lebih dari satu pretest (multiple baseline)
“ Equal change between repeated pretests of treated and control group suggests the use of ANOVA of change rather than ANCOVA” (van Breukelen, 2005).
ANCOVA LEBIH TEPAT DIKENAKAN KETIKA :
1) Menggunakan randomized design.
“ANCOVA assumes that there is no group difference at pretest. This assumption is warranted if treatment assignment is based on randomization or on the pretest” (van Breukelen, 2005)
2) Kondisi awal antara kelompok kontrol dan eksperimen adalah setara. Misalnya terapi depresi diberikan pada subjek dengan skor BDI sedang (19-25). Selain itu jika kondisi awal (pretest) antar kelompok adalah setara maka ANCOVA bisa diterapkan.
“ANCOVA addresses a conditional hypothesis. Thus, the question that ANCOVA answers may begin with an untenable assumption, that two participants have equivalent scores at baseline “ (Jamieson, 1999)
3) Banyak subjek yang bisa mencapai skor maksimal pengukuran (ceiling effect) sehingga varians skor mengalami penurunan.
“When post-test variance decreased (e.g., ceiling effect) difference scores lost power, while the power of regression based methods (analysis of covariance and partial correlations) and structural equation measures of change were unaffected “ (Cribbie & Jamieson, 2004)
.
BEBERAPA CATATAN :
1) ANCOVA dan ANOVA memfokuskan pada hal yang berbeda. ANCOVA memusatkan pada perbedaan efek perlakuan sedangkan ANOVA pada perubahan skor.
“ANCOVA tests the hypothesis of equivalence of adjusted means, assuming the groups were equivalent on the pretest.…ANOVA on difference scores tests the hypothesis of equivalence of means of differences, regardless of the pretest differences between groups”
“The analysis of gain scores answers a different research question than ANCOVA. The analysis of gains, for example, focuses on the improvements from pretest to posttest for whole groups. The gain score, however, tells us precisely how scores changed from pretest to posttest. (Smolkowski, 2010)
An ANCOVA, the alternative to gain scores, focuses on differences between the treatment groups at posttest while holding constant pretest differences. The ANCOVA, then, does not inform about the how the groups changed over time (Smolkowski, 2010).
2) Pada desain randomized, ANOVA dan ANCOVA akan memberikan hasil yang mirip, namun berbeda dalam hal ukuran efek dan powernya.
“ With the assumption of an equivalent comparison group, an analysis of gain scores should give similar results to an ANCOVA” (Maxwell & Delaney, 1990)
3) Penggunaan ANCOVA mensyaratkan pengukuran yang memiliki eror pengukuran rendah.
Eror pengukuran yang rendah ini artinya reliabilitas pengukuran yang dilakukan memuaskan.
“ It is critically important to use reliable measures and precisely measure variables consistently across subjects and over time, especially when using ANCOVA models” (Oakes & Feldman, 2001)
In the presence of measurement error, change-score models may be equally or even more powerful” (Fitzmaurice, Laird, & Ware, 2004)..
4) Untuk kasus skor yang banyak mengandung skor terendah atau tertinggi (floor dan ceiling) direkomendasikan menggunakan ANAKOVA akan tetapi berbasis SEM karena harus melibatkan konstrak laten.
Specifically, for subjects with equal actual change, an easy test (a ceiling effect test) … (or) … a difficult test (a floor effect test) …. These problems with raw-score differences are eliminated by using modern approaches such as structural equation modeling (Dimitrov & Rumrill, 2003)
Tulungagung - SEJARAH
Sejarah
Awalnya, Tulungagung hanya merupakan
daerah kecil yang terletak di sekitar tempat yang saat ini merupakan
pusat kota (alun-alun). Tempat tersebut dinamakan Tulungagung karena
merupakan sumber air yang besar - dalam bahasa Kawi, tulung berarti
mata air, dan agung berarti besar -. Daerah yang lebih luas disebut
Ngrowo. Nama Ngrowo masih dipakai sampai sekitar awal abad XX, ketika
terjadi perpindahan pusat ibu kota dari Kalangbret ke Tulungagung.
Pada tahun 1205 M, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala "Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa" yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.
Di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, terdapat Candi Gayatri. Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit di masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya= bahaya, alang= penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan beliau. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:
Pada tahun 1205 M, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala "Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa" yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.
Di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, terdapat Candi Gayatri. Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit di masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya= bahaya, alang= penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan beliau. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:
Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)
Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)
Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di Bayalangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1)
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)
Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)
Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di Bayalangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1)
Tulungagung - DEMOGRAFIS
Demografis
A. Jumlah Penduduk
Jumlah dan pertumbuhan penduduk Kabupaten Tulungagung selama 5 Tahun
(Tahun 2003-2007) yaitu Tahun 2003 sebanyak 984.730 jiwa dengan
tingkat pertumbuhan 0,68%; Tahun 2004 sebanyak 989.856 jiwa dengan
tingkat pertumbuhan 0,52%; Tahun 2005 sebanyak 996.962 jiwa dengan
tingkat pertumbuhannya 0,72%; Tahun 2006 sebanyak 1.002.807 jiwa dengan
tingkat pertumbuhan 0,59%; dan Tahun 2007 sebanyak 1.020.217 jiwa
dengan tingkat pertumbuhan 1,74%.
Distribusi Penduduk di Kabupaten Tulungagung dapat diukur dengan
angka kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk adalah banyaknya penduduk
per satuan unit wilayah/luas wilayah. Kepadatan penduduk Kabupaten
Tulungagung Tahun 2004 yaitu 875 jiwa/km2 dan pada Tahun 2008 adalah
907 jiwa/km2.
Berdasarkan klasifikasi angka kepadatan penduduk masing-masing
kecamatan di Kabupaten Tulungagung Tahun 2008, bahwa kepadatan
tertinggi adalah Kecamatan Tulungagung sebesar 4.961 jiwa/km².
Kepadatan terendah adalah Kecamatan Tanggunggunung sebesar 212
jiwa/km².
Berdasarkan klasifikasi angka kepadatan penduduk masing-masing
desa/kelurahan di Kabupaten Tulungagung Tahun 2008 menunjukkan bahwa
kepadatan tertinggi adalah Kauman, Plandaan, Karangwaru, Bago, dan
Kedungwaru. Sedangkan kepadatan terendah adalah Rejoagung, Gendingan,
Tanjungsari.
C. Perubahan Penduduk
Perubahan penduduk di Kabupaten Tulungagung dipengaruhi oleh faktor:
kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi. Di
Kabupaten Tulungagung angka kelahiran dan angka kematian yang tinggi
telah lama diusahakan untuk diturunkan.
Program kesehatan masyarakat telah lama dilaksanakan melalui program
peningkatan gizi penduduk, perpanjangan hidup anak, dan persebaran
prasarana kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu di desa-desa disertai
dengan program perawat, bidan masuk desa, dan lain sebagainya yang
dapat menurunkan angka kematian dengan cepat.
Di bidang kelahiran telah dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan
Perempuan dan Keluarga Berencana yang mengkoordinasikan usaha-usaha
untuk menurunkan angka kematian dan kini usaha tersebut telah berhasil
dengan baik.
D. Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk berdasarkan
pengelompokan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang sama,
seperti: komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, komposisi
penduduk menurut jenis pekerjaan dan lain sebagainya.
Perkembangan jumlah di Kabupaten Tulungagung Tahun 2003-2007,
komposisi penduduk dapat dikelompokkan menurut jenis kelamin pada
masing-masing kecamatan menunjukkan bahwa selama kurun waktu 5 tahun
jumlah penduduk wanita selalu lebih besar dibanding jumlah penduduk
laki-laki.
E. Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah penduduk yang dapat diikutsertakan dalam proses
ekonomi. Di Kabupaten Tulungagung usia kerja tenaga kerja dengan usia
antara (15 – 64) tahun pada Tahun 2006 sejumlah 590.552 jiwa, Tahun
2007 sejumlah 600.003 jiwa dan Tahun 2008 sejumlah 628.598 jiwa.
F. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Kabupaten Tulungagung pada Tahun 2008 yang
menonjol adalah dibidang pertanian 169.246 jiwa. Sedangkan mata
pencaharian yang lain yaitu buruh sebanyak 91.007 jiwa, peternakan
sebanyak 70.844 jiwa, lain-lain 28.103 jiwa dan swasta sebanyak 34.671
jiwa.
Waduk Wonorejo - TULUNGAGUNG
Waduk Wonorejo
Bendungan Wonorejo, Wisata Tulungagung
Air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa
pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota
Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia
Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan
rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.
Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu
kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya,
serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di
seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia
pariwisata Tulungagung. Sarana pemasok air PDAM Surabaya itu baru
diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soe-karnoputri, 21
Juni 2001.
Beberapa petugas pengelola bendungan dari Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Tulungagung menuturkan, pengunjung waduk pada hari Minggu
selalu banyak. Jika tidak ada acara khusus semacam pentas dangdut,
penghasilan dari karcis masuk rata-rata Rp 1 juta. Angka pemasukan itu
bisa melonjak menjadi sekitar Rp 2 juta jika ada pergelaran khusus. Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Tulungagung Ahmad Pitoyo
menuturkan, perkembangan Waduk Wonorejo sebagai daerah tujuan wisata
baru memang cukup menggembirakan. “Kehadiran Bendungan Wonorejo bisa
menjadi kekuatan pelapis bagi obyek andalan Pantai Popoh,” katanya.
Dari data kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata di Tulungagung
tergambar, angka kunjungan wisatawan ke waduk ini pada tahun 2001
menempati urutan ketiga, di bawah Pantai Indah Popoh dan Pantai Sine.
Yang cukup menggembirakan, meski baru dibuka sebagai kawasan wisata pada
tahun 2001, angka kunjungan selama setahun lalu sudah mencapai 5.340
orang, menembus tiga besar.
Pembangunan Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan
pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat
mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses
pembangunan. Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049
milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang.
Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi
dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik
sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang. Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain,
menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya
sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga
listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479
hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.
Manfaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti
budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif,
serta pariwisata. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan
Sungai Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan
per tahun. Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata,
setiap pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2.000
per orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh
perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai bendungan.
Sebagai primadona baru, tentu saja penampilan bendungan ini harus
dipertahankan. Ini penting agar tak terjadi penyusutan jumlah pengunjung
pada tahun-tahun mendatang. Waduk Wonorejo,, aku datang......
Langganan:
Postingan (Atom)
Artikel
Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia
Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...
Artikel Populer
-
Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...
-
TEKNIK TERAPI STRUKTURAL Boundary-making Boundary making adalah teknik struktural, dimana fungsi-fungsi psikologis dan fisik d...
-
EPPS EPPS adalah salah satu tes kepribadian yang bersifat tes verbal . Bentuk tes : Forced Choice Technique (Subjek me...
