Tugas perkembangan


Tugas perkembangan
Tugas perkembangan (developmental task) menurut Havighurst adalah tugas yang muncul atau tugas  yang  harus diselesaikan seseorang pada periode / tahapan kehidupannya. Jika tugas tersebut berhasil / sukses akan memperoleh kesenangan, pujian dari lingkungan dan memperlancar tugas berikutnya. Namun bila gagal dalam tugas perkembangan akan mendapatkan kesedihan, kecewa, stress, celaan dari lingkungan dan menghambat tugas berikutnya.   
Subjek pertama telah menerima perubahan dan kondisi fisiknya dan berperan sesuai dengan perannya sebagai anak dan pelajar. Menurut Eysenck (1972), perkembangan fisik yang mencolok pada remaja terjadi setelah mereka mengalami kemasakan seksual yang mempengaruhi perkembangan struktur tubuhnya. Bersamaan dengan terbentunya struktur tubuh pada remaja, tugas perkembangan yang harus diselesaikan adalah menerima kondisi fisiknya dan berperan sesuai dengan jenisnya. Peran jenis dalam kehidupan sehari-hari merupakan perilaku spesifik yang diharapkan dan sebagai standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Kalau terjadi penyimpangan subjek akan dipandang negatif.
Melaksanakan tugas perkembangan sebagai remaja dengan baik, dan bersosialisasi dengan lingkungan secara langsung. Subjek dapat berpikir secara abstrak sesuai dengan norma-norma yang ada di lingkungan. Subjek mendapat dukungan penuh dari lingkungan, keluarga, teman dan pacar baik secara verbal atau non verbal. Subjek sangat bersemangat untuk menempuh pendidikan dan mencapai cita-citanya.  Mengacu pada pendapat Gottlieb (1983), dukungan orang terhadap pembentukan orientasi masa depan remaja dapat dilakukan melalui pemberian informasi atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang mempunyai manfaat emosional bagi remaja.
Pembentukan indentitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja. Subjek berusaha mencari indentitas sebagai pelajar dan remaja. Tanda-tanda menuju hasil yang baik sudah terlihat dari pola perilaku subjek sehari-hari, dan bersemangat dalam menempuh pendidikan untuk mencapai cita-citanya. Menurut Jones & Hartmann (1988), perkembangan identitas selama masa remaja sangat penting karena akan memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa.     
Subjek kedua telah menerima perubahan dan kondisi fisiknya saat ini,  tetapi peran sebagai anak dan pelajar kurang dilaksanakan dengan baik. Masih banyak tugas-tugas perkembangan yang dilalui dengan kurang baik. Subjek memiliki banyak teman yang berarti mempunyai peran sosial yang baik dalam lingkungan, tetapi dukungan keluarga dalam hal mental dan nasehat sangat kurang. Dalam hal ini Nurmi (1991) menjelaskan bahwa meskipun teman sebaya dan lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan remaja, namun sesungguhnya orang tua tetap menjadi bagian yang penting bagi kehidupan mereka. Dukungan orang tua masih sangat dibutuhkan oleh remaja dalam memutuskan rencana masa depan anaknya.
Melaksanakan tugas perkembangan sebagai remaja dengan kurang baik, subjek terkesan tidak pada posisinya sebagai pelajar. Subjek lebih mengesplorasi kemampuan dalam mengemudikan sepeda motor yaitu dengan balapan liar. Masa remaja yang sedang krisis identitas dan berusaha mencari jatidirinya tercermin di subjek. Identitas masing-masing orang merupakan suatu hal yang kompleks, yang mencakup banyak kualitas dan dimensi yang berbeda-beda, yang lebih ditentukan oleh pengalaman subjektif daripada pengalaman objektif, serta berkembang atas dasar eksplorasi sepanjang proses kehidupan (Dusek,1991).
Subjek berusaha mengembangkan proses pencarian identitasnya secara mandiri, dan melalui hubungan sosial dengan teman-temannya. Menurut Josselson, 1980 (dalam Seifert & Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas adalah proses di mana seorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain dan bisa disebut dengan individuasi (individuation). Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu : diferensiasi, praktis dan eksperimentasi, penyesuaian, serta konsolidasi diri.   
Di dalam tahapan perkembangan anak, Stephen J. Ball (2000 : 1214) menyatakan bahwa masa remaja merupakan suatu fase hidup  dimana individu-individu remaja tersebut sedang mencari dan membentuk konsep diri (self-concept) dan jati diri (self-identity). Senada dengan pernyataan tersebut, Nurhaya Nurdin menyatakan bahwa masa-masa teenager atau masa remaja ini adalah merupakan masa pencarian identitas diri (Nurdin: 2008). Masa yang ditandai dengan keinginan untuk membentuk kelompok-kelompok  di luar dari pengawasan orangtua dan keluarga. Tiap remaja ingin diakui oleh remaja lainnya, entah karena prestasi, kesamaan minat dan hobi ataukah karena alasan lain yang hanya mereka sendiri yang tahu.

Adolescence

Adolescence
Remaja sebagai periode tertentu dari kehidupan manusia merupakan suatu konsep yang relative baru dalam kajian psikologi. Di negara-negara barat, istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa Latin adolescere yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.
Perkembangan remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa (period of transition) yang diawali adanya perubahan fisik dan psikologis. Ini merupakan masa-masa untuk mencari jati diri. Remaja mempunyai tempat yang tidak jelas, anak bukan dewasa juga tidak. Berada di antara masa anak dan dewasa (Monks, dkk, 2001).
Dalam perspektif sosiologi, kajian perilaku menyimpang dipelajari karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang dan upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku tersebut. Sixtus Tanje (2008) menyatakan bahwa remaja yang masih bersekolah di SMP/SMU selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku.

1.   Perkembangan Fisik
Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologis (Sarwono, 1994). Pada mulanya tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Tanda-tandanya yaitu ciri-ciri seksual primer, menarche pada perempuan dan spermarche (wet dream) pada laki-laki. Ciri-ciri sekunder meliputi tumbuh kumis dan jenggot, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, di dada, di kaki dan di lengan, dan sekitar kemaluan, serta oto-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul yang membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu diketiak dan sekitar kemaluan.
2.  Perkembangan Kognitif
Masa remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger & Kagan, 1969). Hal ini adalah karena selama periode remaja ini, proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. Remaja mulai membayangkan apa yang dipikirkan oleh orang tentang dirinya. Ketika kemampuan kognitif remaja mencapai kematangan, kebanyakan anak remaja mulai memikirkan tentang apa yang diharapkan dan melakukan kritik terhadap masyarakat, orang tua, bahkan terhadap kekurangan dirinya sendiri (Myers, 1996).
            Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal (formal operational thougt), yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa (Lerner & Hustlsch, 1983). Pada tahap ini remaja sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotetis. Pada masa ini, remaja awal sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak.
            Kemampuan berpikir yang merupakan manifestasi perkembangan intelektual bagi individu menurut Piaget (dalam Dusek, 1977) melalui beberapa tingkatan, yaitu :
  1. Tingkat sensorimotor ; pada saat ini individu baru dapat mengenal objek yang ada di sekitarnya melalui kemampuan mengendalikan gerak-gerak sederhana, baik lewat gerakan tangan maupun kaki dan otot-otot yang lain.
  2. Tingkat preoperational thinking ; pada tingkat ini individu sudah mampu berpikir secara sederhana dengan mengenal nama-nama benda dan kegunaannya. Individu sudah mampu berpikir secara global atau secara garis besar, tetapi belum mendetail atau terdeferensiasi.
  3. Tingkat concrete-operational thinking ; tingkat kemampuan berpikir yang sudah konkrit, jadi individu telah memahami hal-hal yang nyata, hal-hal yang dilihat dan didengar termasuk juga yang tertulis.
  4. Tingkat terakhir adalah formal operational thinking ; Apabila seseorang telah mampu mencapai tingkat ini berarti remaja itu sudah mampu berpikir secara abstrak, baik yang terlihat maupun tidak, yang tertulis maupun tidak.       
3.  Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut Dacey & Kenny (1997), yang dimaksud dengan kognisi sosial adalah kemampuan untuk berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal, yang berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman, serta berguna untuk memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka.
Pada masa remaja muncul ketrampilan-ketrampilan kognitif baru. Menurut sejumlah ahli psikologi perkembangan, ketrampilan-ketrampilan kognitif baru yang muncul pada masa remaja ini mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan kognisi social mereka. Perubahan-perubahan dalam kognisi sosial ini merupakan salah satu cirri penting dari perkembangan remaja. Hal ini dapat dimengerti, sebab selama masa remaja kemampuan untuk berpikir abstrak ini kemudian menyatu dengan pengalaman sosial, sehingga pada gilirannya menghasilkan suatu perubahan besar dalam cara-cara remaja memahami diri mereka sendiri dan orang lain.  
Dua jenis relasi dengan kelompok teman sebaya oleh Santrock (2002) adalah kelompok (crowd) yaitu kelompok-kelompok remaja besar dan kurang bersifat pribadi, sedangkan klik (cliques) yaitu kelompok-kelompok yang lebih kecil, memiliki kedekatan yang lebih besar di antara anggota-anggota dan lebih kohesif dibanding kelompok. Identitas kelompok seringkali mengarahkan identitas pribadi. Pada masa ini remaja sedang dalam proses pencarian jati diri untuk menuju masa selanjutnya.

Phobia dan Takut


Phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Phobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap phobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat phobia dengan seorang pengidap phobia. Pengamat phobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap phobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap phobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek phobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber phobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat gampang, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita phobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Phobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.
ü  Phobic disorder:
-   Ketakutan yang kuat dan tidak masuk akal.
-   Menjadi terganggu jika :
o     Objek ketakutan ada disekitar lingkungannya.
o     Kemampuannya terganggu.
-    Macamnya :
o   Simple/object phobia.
- Ketakutan terhadap objek tertentu.
- Sifatnya tunggal dan khusus (anjing, binatang kecil dll).
ü  Situational phobia
-   Ketakutan pada situasi tertentu.
-   Sifatnya jauh lebih mengganggu (takut tempat terbuka, tertutup dll).
ü  Social phobia
-   Jarang terjadi.
-   Takut tampil, merasa berpenampilan bodoh ketika berbicara, menulis,     
     makan, biasanya disertai perilaku salah tingkah.
            Contoh dari perilaku phobia, seorang anak berusia 12 tahun yang phobia dengan cacing. Setiap melihat cacing, anak tersebut selalu menunjukkan perilaku yang berbeda. Anak tersebut membayangkan ada banyak cacing yang mengelilinginya, padahal hanya ada satu ekor cacing. Ini terjadi karena saat masih umur 5 tahun, anak tersebut di jahili oleh temannya dengan memasukkan cacing ke dalam celananya. Anak tersebut menangis sampai buang air kecil di celanya. Sejak saat itu anak tersebut menjadi phobia dengan cacing (internalisasi nilai).    
                                                                                                                                                   
Takut adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.
Ketakutan harus dibedakan dari kondisi emosi lain, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan.
Ketakutan selalu terkait dengan peristiwa di masa datang, seperti memburuknya suatu kondisi, atau terus terjadinya suatu keadaan yang tidak dapat diterima.
ü  Takut
-   Suatu tanda yang tiba-tiba muncul sebagai reaksi terhadap bahaya.
-   Bentuk reaksi yang mengikut sertakan sistem syaraf otonom.
-   Reaksi yang nampak dapat lari/menghindar atau menghadapi.
            Contoh dari perilaku takut, saat pergi bermain dengan teman-temannya, seorang anak berusia 9 tahun yang berinisial S mengalami ancaman yang diberikan oleh temannya yang berusia 11 tahun yang berinisial N. Anak tersebut ( S ) diancam karena tidak mau diajak berkelahi dengan temannya tersebut ( N ). Kemudian S lari dengan rasa takutnya yang amat sangat ke rumah. Dikemudian hari setelah diancam, S sangat takut saat bertemu dengan N. Bahkan harus bersembunyi untuk menghindari N meski saat bermain, mengaji atau berangkat ke sekolah.      

Little Man Tate


Little Man Tate
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaOdn2zNK0rLVN38BVIN1bFvznxCuTDCL_BtRG72fFA4YOOBy2nZ9MEBsTlWcslf9d7eRNN7COWilfhZNksQJ6dtoXYQ03nLZR_zhF-mvb1sUmgjSSbG_05dijaGsXVM2AoqqRBph3Syyc/s320/little-man-tate1.jpg
Film ini berkisah tentang kehidupan Fred Tate, seorang anak Gifted atau anak berbakat yang lahir dari hasil rekayasa genetika dan hidup dengan seorang Ibu (Dede). Sejak kecil, Fred sudah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Namun hanya Ibunyalah yang menyadarinya. Fred kecil yang masih bayi, sudah bisa membaca padahal Ibunya tidak pernah mengajarinya. Dan ketika memasuki usia tujuh tahun, ketika Tate sudah masuk sekolah dasar, Tate semakin menunjukkan bakatnya yang sangat luar biasa. Tate mahir bermain piano, bahkan memainkan not lagu dari belakang, selain itu Tate sangat cepat dalam menguasai angka, sehingga kemampuan matematika dan fisikanya tanpa batas. 

Namun, walaupun begitu Tate tidak mendapatkan dukungan dari sekolah dan lingkungan sosialnya. Gurunya tidak menyadari bakatnya dan hanya menganggapnya aneh, karena Tate tidak pernah memperhatikan pelajaran, dan hanya melamun di kelas. Begitu pula dengan teman-temannya di sekolah. Karena Tate sering melamun dan penyendiri, teman-temannya menjauhinya. Apalagi, Tate termasuk anak yang memiliki fisik yang lemah, sehingga tate tidak pernah diajak bergabung dalam permainan-permainan olahraga.
Tate menjadi semakin kesepian, dan menenggelamkan diri pada isu global yang ia baca dari buku-buku dan berita TV. Hanya Dede yang memperhatikan dan memberikan kebutuhan kasih sayang padanya. Namun pada saat Jane – seorang psikolog – menemukan Tate dan mengajaknya untuk mengikuti Olimpiade, Tate menyadari bahwa ia bukanlah satu-satunya anak yang ”berbeda” dan merasa kesepian. Bersama Jane, Tate mendapatkan dukungan dan stimulus untuk semakin mengembangkan kemampuan berpikirnya. Tate merasa disanjung dan didukung. Namun, Tate masih tidak bisa mendapatkan teman bermain. Tate masih merasa kesepian dan sendiri.

Sampai suatu saat, Tate menyadari bahwa orang yang benar-benar ia butuhkan adalah Dede, ibunya. Hanya ialah yang menerima Tate apa adanya, dan tidak menuntut apa-apa, serta sanggup memberikan kasih sayang secara tulus. Inilah titik balik dalam kehidupan Tate. Ia menyadari bahwa di dunia ini masih ada tempat baginya jika ia mau beradaptasi dengan lingkungannya dan menerima keadaan bahwa dirinya dilahirkan sebagai anak yang berbakat. Sejak itu, Tate memiliki teman-teman bermain dan dua orang dewasa yang mendukungnya secara mental dan emosional, yakni Jane dan Dede.

Karakteristik pribadi gifted yang muncul dalam film:
1.  Sangat cepat dalam belajar, hingga melebihi kemampuan anak sebayanya. Misal; Tate sudah mampu membaca saat usianya masih balita, dalam usianya yang masih 7 tahun Tate sudah mampu bermain piano selayaknya orang dewasa dan mampu memahami fisika dan matematika bahkan tanpa batas. Bahkan saat dia ikut Jane kuliah, diapun bisa menyerap materi dengan baik. Mahasiswa lain malah meniru pekerjaannya.
2.  Haus akan pengetahuan dan tertantang dengan materi yang lebih sulit. Tate adalah kutu buku dan pembaca yang kritis. Begitu ia diajak Jane untuk mengikuti perkuliahan, ia langsung bisa menyerapnya dengan baik.
3.  Sering melamun (saat di kelas sekolah regular), terlihat bosan dan mengabaikan pelajaran yang itu-itu saja. Ini adalah karakter yang ditunjukkan anak berbakat yang under achiever. Tapi begitu ia masuk pada kelas yang menawarkan materi yang menantang, iapun jadi lebih tertarik dan bersemangat dalam menerima materi.
4.   Ikut memperhatikan dan merisaukan tentang permasalahan global yang dibacanya melalui buku dan berita TV. Bahkan Tate sering tidak bisa tidur karena memikirkan lingkungan sekitarnya.
5. Kemampuan verbalnya luar biasa. Tate mengetahui banyak kosa kata yang seharusnya digunakan oleh orang dewasa dan membuat syair puisi yang sangat mengagumkan yang tidak mungkin dibuat oleh anak normal sebayanya.
6. Suka bereksperimen terhadap sesuatu. Contohnya ketika ia sering bermain piano dengan memulai nada dari belakang, membongkar telepon dan membuat benda baru dari pensil. Tate berpikir tidak lazim, karena pensil tersebut seharusnya digunakan untuk menggambar, tapi malah dibuat benda baru menyerupai susunan molekul olehnya. Sedangkan lagu yang baginya terlalu mudah, dimainkan dari belakang sehingga teman-temannya menganggapnya aneh. 

Kebutuhan sosioemosional pada pribadi gifted yang muncul pada film:
Pribadi gifted juga membutuhkan sosok dan kasih sayang ayah dan ibu. Mereka butuh perlindungan, rasa aman dan waktu yang dihabiskan bersama dengan orang tua mereka. Tate adalah sosok pribadi gifted yang mendapatkan kasih sayang dari ibunya, sedangkan Jane memiliki masa lalu yang miskin akan sentuhan kasih sayang orang tua. Tate merasa bersalah saat ia meninggalkan ibunya untuk mengikuti Jane pergi ke perkuliahan. Iapun menyesal dan sengaja berperilaku buruk pada Jane agar ia dapat pulang dan bertemu kembali dengan ibunya.
Pribadi gifted, membutuhkan teman bermain dan sahabat. Kelebihan yang mereka miliki seringkali membuat mereka merasa sendiri karena tidak ada teman yang mengerti pola pikir dan apa yang mereka pahami. Mereka akan cenderung merasa kesepian dan ingin agar memiliki teman sebagaimana anak normal yang lainnya. Tate sangat ingin mempunyai dan berhubungan dengan banyak teman, tapi teman-temannya di sekolah biasa menganggapnya sebagai anak yang aneh. Tate juga juga tidak ingin terlihat pintar agar dapat diterima secara sosial oleh teman-temannya.

 Jadi menurut saya, bila dikaitkan dengan teori Triadich Models (Renzulli-Monks, 1995), keberbakatan Tate ini merupakan gabungan motivasi, kreatifitas, dan kemampuan luar biasa. Motivasi Tate terlihat saat dia tertarik oleh materi yang menantang, tertarik oleh kalender yang berisi lukisan, dan yang paling terlihat adalah saat ia ingin sekali bertemu dengan ahli matematika di sekolah Jane. Kreatifitasnya terlihat saat dia membuat susunan molekul dari pensil yang seharusnya digunakan untuk menggambar. Kemampuan luar biasanya tampak saat ia bisa membuat puisi yang kosa katanya tidak mungkin diciptakan oleh anak seumurannya, lalu ia bisa memainkan nada dari belakang, dan yang paling tampak adalah saat dia berhasil menjawab soal matematika yang sangat kompleks dalam waktu yang sangat singkat dan tanpa perlu menghitung lama, cukup membayangkan angka-angkanya. Ketiga unsur tadi didukung oleh faktor keluarga dimana ibunya berusaha mendidik dengan cara memenuhi kebutuhan keberbakatan dari Tate, yaitu saat ia tidak bisa tidur, ibunya mengajak permainan menebak bayangan, lalu berusaha menjawab dengan benar setiap pertanyaan yang diajukan oleh Tate. Tidak lupa sang ibu juga memenuhi kebutuhan afeksinya. Sedangkan di lingkungan sekolah yang baru, Jane juga memenuhi kebutuhan intelektual Tate. Lalu faktor lingkungannya yang mendukung adalah teman-temanya di sekolah yang baru. Oleh karena itu kebutuhan Tate akan afeksi dan intelektual terpenuhi karena dukungan dari ketiga faktor tadi, dan Tatepun tumbuh menjadi anak berbakat yang bahagia.


Artikel

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...

Artikel Populer