Tes prestasi CAT

          ·            Universitas Terbuka
Era globalisasi saat ini menghendaki untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Tuntutan perubahan budaya ini juga dihadapi organisasi di bidang jasa pendidikan, termasuk pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ). Universitas terbuka berusaha mewujudkan visinya menjadi salah satu pusat unggulan dalam penyelenggaraan, penelitian dan pengembangan, serta penyebaran informasi tentang pendidikan tinggi jarak jauh.
PTJJ menghendaki terlaksananya suatu bentuk belajar mandiri yang direncanakan dengan baik dan diorganisasikan secara sistematik oleh institusi penyelenggaranya. Dalam kuliahnya, mahasiswa dapat belajar dimana saja, kapan saja, mandiri atau kelompok, dan menggunakan berbagai media yang disediakan atau difasilitasi penyediannya oleh institusi.
Saifuddin Azwar (2003: 9) menyatakan bahwa tes prestasi hasil belajar adalah tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap informasi subyek atas bahan-bahan yang telah diajarkan. Menurut Anas Sudijono (2005: 73) tes prestasi hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian belajar.

-          Tes prestasi
Tes prestasi adalah test kemampuan yang menilai kecakapan yang telah diperoleh dan menyatakan apa yang dapat dilakukan oleh individu pada saat ini.

-          Klasifikasi Tes Prestasi
Menurut Cangelosi (1995: 23) membedakan tes menjadi 2 buah yaitu tes baku dan tes buatan guru. Sumadi Suryabrata (2005: 14) membuat penggolongan tes berdasarkan atribut psikologis menjadi : (1) tes kepribadian, (2) tes intelegensi, (3) tes potensi intelektual dan (4) tes hasil belajar. Cronbach (1970) sebagaimana dikutip Saifuddin Azwar (2004: 5) membedakan tes menjadi dua kelompok besar yaitu tes yang mengukur performansi maksimal.
Klasifikasi tes dari Anas Sudijono (2005:68-75) yang mengklasifikasikan tes berdasarkan perspektif tertentu. Jika tes digolongkan berdasarkan fungsi sebagai alat ukur perkembangan, maka ada 6 jenis tes yaitu : tes seleksi, tes awal, tes akhir, tes diagnostik, tes formatif dan tes sumatif. Berdasarkan aspek psikis yang ingin dinilai, tes dibedakan menjadi tes intelegensi, tes kemampuan, tes sikap, tes kepribadian dan tes hasil belajar. Berdasarkan banyaknya orang yang mengikuti maka tes dibedakan menjadi tes individu dan tes kelompok.
Jika digolongkan berdasarkan waktu yang disediakan, maka akan ada dua jenis tes yaitu power test dan speed test. Ditinjau dari segi respon tes dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu tes verbal dan tes non verbal. Dan jika ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan, akan ada dua tes yaitu tes tertulis dan tes lisan.

Karakteristik tes yang baik
-          Reliable, nilai tes dapat diandalkan dan konsisten.
-          Valid, menilai apa yang seharusnya dinilai.
-          Memiliki prosedur yang seragam dalam member dan menilai tes.

Prinsip Dasar Pengukuran tes prestasi
Prinsip-prinsip Pengukuran Prestasi Belajar (Gronlund,1977)
-          Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional.
-          Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program instruksional atau pengajaran.
-          Tes prestasi harus berisi aitem-aitem dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
-          Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan pengunaan hasilnya.
-          Reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin & hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
-          Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar para anak didik.

Dari berbagai sistem penilaian di UT, yang sejak tahun 2006 sudah mulai dikembangkan adalah sistem ujian berbasis komputer ( Computerized Based Testing). CBT yang dikembangkan UT didasarkan pada rancangan nonaditif linear fixed-form test, artinya tingkat kesukaran butir soal tes tidak disesuaikan dengan kemampuan peserta tes, setiap peserta mengerjakan sejumlah butir soal tertentu dengan jumlah butir soal adalah tetap. Penyelenggaraan tes yang memberikan sejumlah butir soal yang sama pada setiap peserta tes seperti pada sistem ujian akhir semester UT dengan CBT maupun PPT kurang efisien, khususnya untuk peserta tes dengan kemampuan rendah dan tinggi (Lord, 1980: 150; Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991: 145). Hal ini karena banyak butir soal yang tidak mampu memberikan informasi berguna dalam membedakan peserta tes dalam rentang kemampuan tertentu.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam mengukur kemampuan peserta tes, maka UT perlu menerapkan tes adaptif pada penyelenggaraan CBT. Adaptif memiliki pengertian bahwa butir soal (tes) yang diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan setiap peserta tes atau tailored testing (Lord, 1980 : 151). Penyelenggara tes adaptif berbasis computer ini popular disebut dengan Computerized Adaptive Testing (CAT).
CAT didasarkan pada item response theory (IRT). Pada CAT computer memindahkan butir soal ke dalam computer, menyeleksi dan memberikan butir soal, menskor jawaban peserta, memilih butir soal baru untuk diberikan lagi kepada peserta, dan menghentikan tes jika sejumlah butir tes tertentu telah diberikan atau presisi pengukuran yang ditentukan telah tercapai.

CAT memiliki empat  kelebihan yaitu :
-          Meningkatkan efisiensi, dengan memberikan butir soal yang sesuai dengan kemampuan peserta tes. Butir yang terlalu mudah atau terlalu susah dapat dihindari, sehingga panjang tes dapat berkurang tanpa mengurangi tingkat presisi pengukuran (Wainer, 1990:10 ; Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991 : 146, Weis & Schleisman, 1999 : 130).
-          Keamanan tes lebih terjamin karena CAT mengambil soal dari bank soal yang sudah terkalibrasi dan tersimpan secara elektronik.
-          Skor CAT dapat segera diketahui oleh peserta tes, karena computer langsung menskor dan mengestimasi kemampuan peserta setelah butir-butir soal dijawab.
-          Tampilan format butir soal yang tidak dapat dilakukan pada Paper and Pencil Test (PPT) dapat dilakukan di CAT (misalnya : Animasi dan suara)

Menurut Green, et. al. (1984) dan Kingsbury & Zara (1898) pengembangan CAT memerlukan evaluasi pada enam komponen yaitu :
-          Model respon butir
-          Bank soal
-          Pemilihan butir soal awal
-          Metode pengestimasian tingkat kemampuan
-          Prosedur pemilihan butir soal
-          Aturan pemberhentian
Perangkat Tes CAT ini berformat pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban, terdiri atas 50 butir soal tersebar dalam beberapa modul.  Pedoman utama dalam pembuatan butir soal bentuk pilihan ganda adalah:
1) Pokok soal harus jelas
2) Pilihan jawaban homogen dalam arti isi
3) Panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
4) Tidak ada petunjuk jawaban benar
5) Hindari menggunakan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah
6) Pilihan jawaban angka diurutkan
7) Semua pilihan jawaban logis
8) Jangan menggunakan negatif ganda
9) Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes
10) Bahasa Indonesia yang digunakan baku
11) Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.

a.       Keunggulan
-  Komprehensif
-  Pemeriksaan jawaban dan pemberian skor mudah
-  Penggunaan lembar jawaban lebih efisien dan hemat
-  Kualitas aitem dapat dianalisis secara empiric
-  Objektivitas tinggi
-  Umumnya mempunyai reliabilitas yang memuaskan

b.      Kelemahan
-  Menentukan kata kunci
-  Pembuatan sulit dan memakan waktu dan tenaga.
-  Aitem untuk mengungkapkan tingkat kompetensi yang tinggi
-  Jawaban dapat ditebak

Pada penelitian ini model respons butir atau model IRT yang digunakan untuk membangun CAT adalah model logistic 3 parameter ( Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991: 17, Hambleton & Swaminathan, 1985: 49).
Tiga konsep IRT yang digunakan dalam pengembangan CAT adalah (1) fungsi informasi, (2) kesalahan buku pengukuan ( standard error of measurement ), dan (3) pendugaan tingkat kemampuan (ability estimation). Nilai fungsi informasi butir menggambarkan seberapa akurat suatu butir soal dapat mengestimasi tingkatan kemampuan peserta tes. Dengan menggunakan fungsi informasi, ketepatan pengukuran pada pengestimasian kemampuan peserta dapat dihitung pada setiap tingkat kemampuan. Fungsi informasi butir dinyatakan oleh Birnbaum  ( Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991: 91).
Kesalahan buku pengukuran ( standard error of measurement, SEM ) berkaitan erat dengan fungsi informasi. Fungsi informasi tes dengan SEM mempunyai hubungan yang berbanding terbalik kuadratik, semakin besar fungsi informasi tes maka SEM semakin kescil atau sebaliknya ( Hambleton, Swaminathan, & Rogers, 1991: 94).
Metode yang umum untuk mengestimasi tingkat kemampuan peserta adalah metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) (Baker, 1992). Tujuan MLE adalah menemukan nilai yang memaksimumkan fungsi kemungkinan. Fungsi kemumngkinan merupakan fungsi peluang dari pola respons pesrta terhadap butir. Pada praktiknya, untuk mengestimasi tingkat kemampuan dengan MLE ini dilakukan dengan menggunakan prosedur iterasi Newton-Raphson ( Hambleton, Swaminathan, 1985: 83).
Satu masalah dengan penerapan metode MLE pada tes adaptif adalah ketidakmampuan fungsi kemungkinan untuk menemukan solusi maksimum ketika peserta tes menjawab semua butir soal dengan benar atau salah. Untuk mengatasi masalah ketidakmampuan metode MLE dalam mengestimasi kemampuan peserta manakala respons peserta tes belum berpola pada penelitian ini digunakan metode step size (Dodd, 1990; Weiss, 2004).
Proses adaptif testing dimulai dengan memilih butir soal atau kelompok butir soal pertama dari bank soal, selanjutnya butir soal diberikan kepada peserta tes. Setelah peserta merespon (benar atau salah), tingkat kemampuan peserta diperbarui atau diestimasi kembali. Kemudian butir soal berikutnya dipilih berdasarkan estimasi tingkat kemampuan terbaru. Begitu seterusnya setelah butir soal yang diberikan sebanyak yang ditentukan atau setelah presisi estimasi tingkat kemampuan atau tingkat kesalahan baku pengukuran yang diinginkan telah dicapai.
Pengujian Algoritma CAT
Tes dimulai dengan memilih butir soal awal dengan tingkat kesukaran sedang. Berikutnya respons terhadap butir diskor. Kemudian diestimasi (sementara) tingkat kemampuan peserta dengan menggunakan Maksimum Likelihood Estimation. Selanjutnya, dicari nilai fungsi informasi butir pada tingkat kemampuan peserta yang telah diperoleh dan dihitung pula estimasi kesalahan baku pengukurannya. Kemudian dipilih lagi butir yang memiliki nilai fungsi informasi tertinggi atau yang mengurangi kesalahan pengukuran tersbesar. Begitu seterusnya sampai tes dihentikan jika criteria pemberhentian terpenuhi.
Terkait dengan aturan pemberhentian tes yang digunakan maka pada penelitian ini dikembangkan dua desainalgoritma CAT, yaitu : algoritma CAT murni dan algoritma CAT yang dikendala modul (modul-Constrained CAT, CCAT). Pada algoritma CAT murni tes dihentikan jika kesalahan buku pengukuran telah mencapai 0,30 atau setara dengan tingkat reliabilitas sebesar 91% pada pengukuran menggunakan teori klasik (Thissen, 1990). Sedangkan pada algoritma CCAT tes dihentikan jika telah mencapai sejumlah butir tertentu.

Standard Progressive Matrices (SPM)

Standard Progressive Matrices (SPM) merupakan tes untuk mengungkap kemampuan memahami figur yang tidak berarti dengan mengobservasi dan berpikir jernih pada saat mengerjakan tes tersebut, kemudian melihat hubungan-hubungan antara figur-figur yang ada dan akhimya mengembangkan penalaran, tes ini untuk melengkapi Mill Hill Vocabulary Scale (MHVS) yang mengungkap kemampuan mengingat kembali informasi yang telah didapat dan yang disimpan dalam ingatannya (Raven,1960).
Anastasi (1988) mengatakan SPM mengukur faktor "g" dari Spearman, yaitu faktor umum yang dimiliki individu dan mendasari kemampuan manusia untuk melakukan hal-hal tertentu dan berperilaku tertentu. Jika ditinjau dari pemyataan Raven (1960) bahwa SPM melengkapi MHVS, maka sebetulnya faktor umum tersebut terdiri dari dua faktor yaitu verbal dan performance, seperti halnya pada WAIS, skalanya terdiri dari verbal dan performance.
Ahli lain, Cattell (dalam Vemon,1973) berpendapat bahwa kemampuan umum atau faktor "g" sebetulnya terdiri dari dua komponen yaitu fluid intelligence dan crystalized intelligence, kemudian disebut dengan Gf dan Gc (General fluid dan General crystalizea). Selanjutnya Cattell menjelaskan bahwa Gf adalah pengaruh bawaan dan biologis pada perkembangan intelek, sedangkan Gc adalah hasil interaksi kemampuan bawaandengan kebudayaan, pendidikan dan pengalaman.
Konsep Raven (1960) sebetulnya senada dengan konsep Cattell (dalam Vemon, 1973), yaitu SPM mengukur faktor Gf, sedangkan MHVS mengukur Gc, informasi yang disimpan dan diungkap dengan vocabulary adalah pengaruh dari lingkungan dan kebudayaan, tidak dibawa sejak lahir,sedangkan figur-figur tak berarti dalam SPM mengungkap kemampuan yang dibawa sejak lahir. Jadi tampaknya Anastasi (1988) menarik kesimpulan dari konsep Cattell di atas, mungkin lebih tepat jika dikatakan SPM mengukur sebagian dari faktor “g” yaitu Gf.
Materi SPM berupa sebuah buku yang berisi 60 gambar yang merupakan soalnya. Keenampuluh gambar tersebut dikelompokkan menjadi lima kelompok disebut set A, B, C, D, dan E, masing-masing terdiri dari 12 item. Setiap item terdiri dari satu gambar besar dengan bagian yang berlubang, ada gambar-.gambar kecil yang ukurannya sama dengan lubang tersebut untuk menutup lubang pada gambar besar. Untuk set A dan B disediakan enam gambar kecil sebagai pilihan, sedangkan untuk set C, D, E disediakan delapan pilihan.
Pada umumnya setiap set pada awalnya terdiri dari soal-soat yang mudah, kemudian meningkat semakin sukar. Tes ini dapat dikenakan pada semua umur, setiap subjek diberi tugas yang sama namun kecepatan mengerjakan sesuai dengan individu masing-masing. Jika ingin mengungkap kemampuan individu maka tes diberikan tanpa batas waktu, jadi kemungkinan memang subjek  dapat mengerjakan tapi waktunya cukup lama, jika ingin mengungkap efisiensi individu maka tes diberikan dalam batas waktu tertentu,  pada umumnya untuk SPM waktu yang dibutuhkan adalah 30 menit.
Skor SPM adalah jumlah jawaban yang betul, kemudian skor mentah ini diubah menjadi skala persentil. Skala persentil ini digolongan menjadi lima tingkatan yang merupakan tingkat inteligensi subjek (Raven, 1960) yaitu :

Grade  I           Intellectually superior untuk persentil 95 atau lebih.
Grade  II         Definitely above average untuk persentil 75 atau lebih.
Grade  III        Intellectually average untuk persentil antara 25 - 75.
Grade  IV        Definitely below average untuk persentil25 - 10.
 Grade  V         Intellectually defective untuk persentil di bawah 10.

Beberapa penelitian telah dilakukan di luar negeri dan diperoleh koefisien reliabilitas SPM dengan retest berkisar antara 0,7 dan 0,9, sedangkan korelasi dengan tes inteligensi verbal maupun performance koefisiennya berkisar antara 0,4 dan 0,75 (Anastasi, 1968). Penelitan oleh Masrun (1976) dilakukan terhadap siswa-siswa beberapa SMA di Daerah Istimewa Yoyakarta, dalam penelitian tersebut dihitung internal consistency validity, diperoleh angka korelasi antara 0,29 sampai dengan 0,58. Juga dihitung korelasi antara SPM dengan mata pelajaran Bahasa, Matematika, dan llmu Pengetahuan Alam, disimpulkan bahwa validitas SPM cukup meyakinkan untuk mengukur inteligensi siswa-siswa SMA.
Dalam penelitian ini tidak membicarakan lagi item-item dari SPM namun SPM secara keseluruhan, sesuai dengan kenyataan yang dilakukan selama ini bahwa SPM digunakan untuk mengukur inteligensi secara utuh sebanyak 60 item.
Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) adalah tes inteligensi yang banyak digunakan di Yogyakarta, penyajiannya secara individual dan dibutuhkan keahlian tertentu untuk menyajinya, sehingga penggunaannya dalam lingkungan terbatas. Tes ini dianggap masih cukup baik dan terkontrol penggunaannya dimasyarakat, maka dalam penelitian ini akan mengkorelasikan SPM dengan WAIS, dianggap jika ada korelasi yang positif, berarti SPM masih cukup baik untuk mengukur inteligensi.
Wechsler (1958) mendefinisikan, inteligensi sebagai kemampuan individu untuk berperilaku, bertujuan, berpikir secara rasional dan menyelesaikan masalah lingkungannya secara efektif. Menurut Anastasi (1988) WAlS mengukur faktor general, tes ini dikenakan pada individu mulai umur 16 tahun sampai dewasa. Tes ini disajikan secara individual yaitu seorang tester menghadapi seorang testi, membutuhkan waktu kira-kira 90 menit. Terdiri dari 11 subtes yang digolongkan menjadi dua yaitu Verbal dan Performance :
Verbal
Performance
1. lnformasi
2. Penelitian
3. Hitungan
4. Persamaan
5. Rentangan Angka
6. Perbendaharaan Kata
1. Simbol Angka
2. Melengkapi Gambar
3. Rancangan Balok
4. Mengatur Gambar
5. Merakit Objek

Dari kesebelas subtes tersebut diperoleh skor mentah, masing-masing harus diubah dulu ke dalam skor standard, kemudian skor standard tersebut dijumlahkan sesuai dengan komponennya yaitu verbal dan performance, total dan verbal dan performance adalah Full. Total standard skor dikonsultasikan dengan tabel IQ sesuai dengan usia subjek. Hasilnya berupa Verbal lQ, Performance IQ, dan Full IQ yang merupakan IQ dwiasi dengan mean 100 dan SD 15 (Wechsler, 1958).
Reliabilitas kesebelas subtes WAlS dihitung pada kelompok umur 18-19 tahun, 24-34 tahun, dan 45-59 tahun sebagai sampel dari 10 kelompok umur yang disusun oleh Wechsler. Perhitungan reliabilitas menggunakan teknik genap ganjil formula Spearman Brown, kecuali Digit Span dan Digit Simbol. Untuk Digit Span mengkorelasikan antara digit foreward dengan digit backwad, sedangkan Digit symbol dikorelasikan dengan Subtes Digit Symbol dari W-B (Wechsler Bellevue). Diperoleh hasil reliabilitas untuk Full Scale = 0,97; Verbal Scale = 0,96; dan Performance Scale = 0,93. Standard Erorr Measurement berturut-turut adalah 2, 6, 3, dan 4 (Anastasi, 1968).
Validitas kesebelas subtes WAlS dilakukan dengan Content Validity menurut Wechsler (dalam Anastasi,1968) kesebelas subtes tersebut sudah sesuai dengan definisi inteligensi yang diajukan. Selanjutnya menurut Anastasi (1968) Wechsler juga menghitung concurrent validity yaitu mengkorelasikan WAlS dengan prestasi belajar murid-murid sekolah, diperoleh angka korelasi sebesar 0,4, korelasi WAlS dengan Stanford-Binet = 0,8, dan korelasi dengan SPM sebesar 0,7.
Penelitian oleh Soeramto (1986) mengenai kesahihan, keandalan, dan faktor-faktor inteligensi yang diungkap WAIS, dengan menggunakan hasil tes WAIS dari biro konsultasi Fakultas Psikologi, menyimpulkan bahwa WAlS cukup sahih untuk mengungkap inteligensi, juga cukup andal dengan koefisien keandalan antara 0,453 sampai dengan 0,973, sedangkan faktor-faktor inteligensi yang dapat diungkap adalah visualization, verbal comprehension, memory, perceptual speed, reasoning, information, perceptual organization.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah:
1. Ada hubungan posifif antara SPM dengan WAlS Full IQ.
2. Ada hubungan positif antara SPM dengan WAlS Verbal IQ dan Performance IQ.

Artikel

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia

Peran Psikologi dalam Investigasi Kasus Hukum di Indonesia Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga ...

Artikel Populer